Jumat, 22 Februari 2019

7 Langkah Mengatasi Trauma Pada Anak

Anak-anak yang mengalami syok harus mendapat perhatian khusus. Hal ini sangat penting biar traumanya tidak berkelanjutan.

Trauma bisa dalam bentuk permasalan fisik dan psikologis, yang bekerjsama keduanya saling terkait.

anak yang mengalami syok harus mendapat perhatian khusus 7 Langkah Mengatasi Trauma pada Anak
Photo: https://www.af.mil/News/Article-Display/Article/125353/kabul-airman-brings-gifts-smiles-to-local-children/

Trauma akan menyebabkan dampak psikologis yang parah. Terjadinya syok pada anak bisa disebabkan oleh:
  • Kasus bulying.
  • Mengalami kekerasan fisik.
  • Mengalami kekerasan s*ksual.
  • Mengalami bancana alam yang dahsyat.
  • Lainnya.

Bahayanya jikalau anak terus dihantui rasa syok yaitu sanggup menghambat pertumbuhan dan perkembangannya. Hal ini nantinya akan sangat terasa ketika anak kelak sudah dewasa.

Gejala syok pada anak, yaitu:
  • Anak susah tidur.
  • Muncul rasa ketidakpercayaan diri pada anak.
  • Anak mulai menutup diri dan tidak mau bergaul dengan teman-teman sebayanya.
  • Anak mulai tidak percaya kepada orang remaja (seperti orang tua, paman, bibi, dll)
  • Anak menarik diri dari acara yang sebelumnya disukainya.
  • Anak sulit untuk dihibur (sering muram atau cemberut).
  • Anak mengalami ledakan emosi yang sulit dikontrolnya, atau sebaliknya yaitu anak mengalami kekosongan emosi.

Pada balita (atau anak di bawah usia 5 tahun) yang mengalami trauma, tanda-tanda yang biasanya ditimbulkan yaitu ketakutan, sering terlihat gemetaran, menangis atau berteriak (secara tidak masuk akal atau tanpa penyebab), terlalu pendiam.

Pada anak berusia 6-12 tahun yang mengalami tramua, gejalanya yaitu sangat pendiam, mengisolasi diri, gampang murka (sensitif), gangguan tidur.

Reaksi anak terhadap syok bisa terlihat secara eksklusif ataupun suatu ketika nanti akan terlihat. Selain itu, keparahan syok juga bertingkat-tingkat.

Anak yang mempunyai problem gangguan mental, dimana pernah mengalami trauma, dan tidak mendapat support dari lingkungan, maka beresiko tinggi mengalami dampak syok yang parah.


Menanggulangi Trauma pada Anak

Mengatasi syok pada anak sangatlah penting, sehingga orang renta dituntut untuk perhatian pada anak. Ajaklah anak untuk melaksanakan hal-hal rutin bersama ibarat menonton TV, makan, bermain sesuatu, dll. Hal ini nantinya menciptakan anak merasa lebih nyaman, kondusif dan merasa diperhatikan oleh orang tuanya.

Trauma pada anak menjadikan orang renta harus menyediakan waktu lebih banyak untuk menemani anak. Selain itu, hindarkan aneka macam hal yang bisa memicu kambuhnya rasa syok anak.

Dengarkan dongeng anak dan pahami perasaan mereka, ucapkanlah perkataan yang gampang dimengerti anak dan gunakan kata-kata yang menciptakan anak nyaman, serta jangan ucapkan sesuatu yang menciptakan anak takut.

Dengarkan Anak

Ketika anak berbicara maka dengarkan dengan seksama, hindari menyela, suka menyalahkan ataupun tidak menghargai perkataan anak.

Dengarkan apa yang diungkapkan anak Anda untuk menggali informasi, sehingga Anda bisa mengetahui kondisi anak secara akurat. Hal ini penting biar orang renta bisa menawarkan terapi dan perilaku yang sempurna pada anak.

Kemampuan orang renta dalam mendengarkan sangatlah penting dalam mengatasi syok anak. Berikan perhatian penuh pada anak, hindari menghakimi atau mengecilkan perkataan anak, betapapun konyol dan tidak logisnya perkataan anak.

Yakinkan Anak

Kejadian jelek tertentu akan menyebabkan rasa tidak kondusif pada anak. Sehingga sangat penting biar orang renta meyakinkan anak bahwa keadaan akan membaik.

Tumbuhkan rasa percaya anak pada orang tuanya. Dengan begitu, sangat penting biar orang renta (terutama Ibu) selalu akrab dengan anaknya.

Selain itu, orang renta perlu mendorong anak untuk mengungkapkan perasaannya. Hal ini penting biar orang renta bisa mengetahui kondisi pemahaman anak terhadap insiden yang dilaluinya.

Orang renta harus menciptakan anak senyaman mungkin, sehingga anak mau terbuka untuk menceritakan perihal segala kondisinya.

Dengan mengetahui kondisi anak secara akurat, sehingga orang renta bisa lebih gampang untuk meluruskan segala salah pengertian yang ada di benak anak.

loading...

Pastikan Anak Mendapatkan Kasih Sayang yang Cukup

Jika anak mencicipi kelembutan dan kasih sayang dari orang tuanya, maka rasa syok anak nantinya secara perlahan akan memudar.

Hal inilah yang menjadikan belum dewasa yang pernah mengalami syok membutuhkan perhatian khusus dari orang di sekelilingnya.

Sediakan waktu untuk membangun ikatan secara emosional dengan anak. Selain itu buatlah acara rutinitas keseharian anak, hal ini untuk membantu anak dalam melewati rasa traumanya dengan cara kembali pada rutinitasnya sehari hari.

Biarkan Anak Menangis (Jangan Dipaksa Berhenti)

Ketika anak mengalami insiden yang tidak mengenakan menurutnya, maka reaksi pertama yang dilakukan anak ialah menangis.

Penting diketahui oleh para bunda, menangis merupakan cara anak menyalurkan emosinya untuk menenangkan gejolak yang ada di dalam hatinya.

Sehingga orang renta hendaknya membiarkan anak menangis beberapa saat, sehingga nantinya emosinya mereda dan hatinya mulai tenang.

Dengan begitu, orang renta tidak perlu memaksa anak berhenti menangis. Dalam kondisi tertentu, menangis bisa menjadi hal yang sangat baik (khususnya pada anak-anak).

Menangis ternyata juga sanggup mengurangi ketakutan yang dialami anak.

Memberi Hal yang Disenangi Anak

Untuk memperbaiki mental anak yang mengalami trauma, selain menawarkan pinjaman dan motivasi pada anak serta menemani anak. Cara efektif lainnya untuk mengatasi syok anak yaitu dengan menawarkan hadiah atau hal yang disenangi anak.

Dengan menawarkan hiburan dan rasa bahagia pada anak, maka hal ini membantu anak untuk melupakan insiden atau syok yang pernah dialaminya.

Sebagai penutup, ingatlah beberapa point utama yang perlu dilakukan orang tua: (dalam mengatasi syok anak)
  • Kasih sayang dan waktu berkualitas untuk anak
  • Rasa kondusif dan nyaman pada anak
  • Buatlah anak bahagia dengan cara memberinya hadiah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar